Selasa, 24 Juli 2012

Berbisnis sekaligus Beribadah (puasa hari ke 5)

Pusat Pelatihan Bisnis/Action Coach 25-07-2012

Hari Kelima.
Di hari Kelima ini, kita akan membicarakan Budaya/kebiasaan ke 3 di Action Coach yang membawa kita ke kesuksesan yang berkelimpahan. Budaya yang ke 3 ini adalah “Integrity”.  Untuk hari ini kita akan membicarakan integritas dalam perspektif bisnis. Kata Integritas berasal dari bahasa inggris Integrity yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia jadi integritas. Secara harfiah integritas bermakna mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran. Itu makna yang tercantum dalam kamus bahasa Indonesia. Nah.. kalau kita mengacu pada pengertian yang dianut oleh pendiri Action Coach Brad Sugars maka integritas itu bermakna, bahawa setiap individu harus berbicara tentang hal-hal yang benar. Sehingga apa yang dijanjikan itulah yang aka dipenuhi. Dan setiap individu, hanya akan membuat kesepakatan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain yang memang harus dan bisa ditepati.Setiap Individu, di awal membuat perjajian, juga harus selalu mengkomunikasikan potensi-potensi yang bisa membuat perjanjian batas. Tentang perjanjian-perjanjian yang batal, harus segera ditindaklanjuti.
Nah… selanjutnya kita akan melihat integritas yang berperan dalam perspektif bisnis. Dalam menjalankan sebuah bisnis, kita tidak pernah lepas dari sebuah perjanjian. Pakah dalam bentuk tertulis/MoU ataupun lisan. Perjanjian dalam bisnis juga banyak wilayah (marketing, promosi, penjualan, dll). Sebagai satu contoh, perjanjian jual-beli. Beberapa hal yang sering terjadi pelanggaran dalam jual-beli antara lain, pengiriman yang tidak tepat. Hal-hal penting, ternyata tidak diatur dalam perjanjian jual-beli. Seorang manager marketing perusahaan kertas sebut saja perusahaan A bercerita ke saya tentang masalahnya. Singkatnya begini, perusahaan A ini punya jalur pengiriman kerta ke luar pulau sebagai berikut. Dari gudang menggunakan jasa langganan transportasi truk yang memang  sendiri. Kemudian masuk kekapal menuju luar Jawa timur/pulau dengan Kapal langganan. Semua jalur tranportasi memang sudah di setting sedemikian rupa supaya kertas sampai di tujuan dengan kondisi yang tetap rapi. Tapi suatu saat, tenaga penjualan menjual kertas ke Kalimantan. Hanya saja, pembeli tidak mau menggunakan jasa transportasi yang sudah disetting perusahaan, dengan alas an terlalu mahal. Selain itu, pembeli juga punya jasa tranportasi sendiri yang lebih murah. Dan ini disetujui saja oleh tenaga penjualan tanpa dikomunikasikan lebih jauh efeknya. Dan benar sekali, setelah barang dikirim dan sampai di Kalimantan, ternyata kertasnya dalam kondisi rusak dan tidak bisa dipakai. Akhirnya pemebli complain ke perusahaan. Sementara perusahaan kerta A tidak mau dikomplain dengan alas an, bahwa kerta keluar dari Gudang pabrik dalam kondisi rapi dan tertata. Akhirnya masalah ini bergulir cukup lama dan menjengkelkan.
Dari kasus ini bisa kita ambil satu pelajaran. Bahwa semestinya, hal-hal yang bisa mengakibatka perubahan kondisi barang dan rusaknya perjanjian tidak dibicarakan lebih awal. Jadi seharusnya pada waktu tenaga penjualan deal dengan pembeli di Kalimantan dengan dengan jasa transportasi sendiri, maka tenaga penjualan menjelaskan “jalur transportasi yang disetting perusahaan kertas A adalah untuk kepentingan kondisi baarang. Tapi kalau anda menggunakan transportasi lain, maka ada kemungkinan barang rusak dan tidak bisa dipakai. Nah.. kalau rusak sampai di tempat, perusahaan kertas A tidak mau bertanggung jawab”. Kalau saja pernyataan ini dibuat sebuah perjanjian resmi, maka tidak akan muncul masalah complain seperti di atas. Itu satu contoh saja. masih banyak contoh-contoh lainnya. Misalnnya, barang yang dikirim telat waktu, adanya barang-barang yang tidak sesuai spesifik dll. Kalau hal-hal semacam ini terjadi terus-menerus, maka akan mengikis kepercayaan dari konsumen. Dan pada akhirnya akan sangat memebahayakan kondisi perusahaan. Karena bisnis yang tidak dipercaya, tidak akan mendatangkan konsumen.
Karena itu, integritas menjadi budaya yang memang harus dipegang teguh, baik oleh perusahaan ataupun karyawan dalam perusahaan tersebut.

(Business Relation Action Coach Surabaya Agung Kurniawan Photo gettingsmart.com)

0 komentar:

Posting Komentar