
Hari Kelima.
Di hari Kelima ini, kita akan
membicarakan Budaya/kebiasaan ke 3 di Action Coach yang membawa kita ke
kesuksesan yang berkelimpahan. Budaya yang ke 3 ini adalah “Integrity”. Untuk hari ini kita akan membicarakan
integritas dalam perspektif bisnis. Kata Integritas berasal dari
bahasa inggris Integrity yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia jadi
integritas. Secara harfiah integritas bermakna mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan
yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan;
kejujuran. Itu makna yang tercantum dalam kamus bahasa Indonesia. Nah.. kalau
kita mengacu pada pengertian yang dianut oleh pendiri Action Coach Brad Sugars
maka integritas itu bermakna, bahawa setiap individu harus berbicara tentang
hal-hal yang benar. Sehingga apa yang dijanjikan itulah yang aka dipenuhi. Dan
setiap individu, hanya akan membuat kesepakatan baik dengan dirinya sendiri
maupun dengan orang lain yang memang harus dan bisa ditepati.Setiap Individu,
di awal membuat perjajian, juga harus selalu mengkomunikasikan potensi-potensi
yang bisa membuat perjanjian batas. Tentang perjanjian-perjanjian yang batal,
harus segera ditindaklanjuti.
Nah… selanjutnya kita akan melihat integritas yang berperan
dalam perspektif bisnis. Dalam menjalankan sebuah bisnis, kita tidak pernah
lepas dari sebuah perjanjian. Pakah dalam bentuk tertulis/MoU ataupun lisan. Perjanjian
dalam bisnis juga banyak wilayah (marketing, promosi, penjualan, dll). Sebagai satu
contoh, perjanjian jual-beli. Beberapa hal yang sering terjadi pelanggaran
dalam jual-beli antara lain, pengiriman yang tidak tepat. Hal-hal penting, ternyata
tidak diatur dalam perjanjian jual-beli. Seorang manager marketing perusahaan
kertas sebut saja perusahaan A bercerita ke saya tentang masalahnya. Singkatnya
begini, perusahaan A ini punya jalur pengiriman kerta ke luar pulau sebagai
berikut. Dari gudang menggunakan jasa langganan transportasi truk yang memang sendiri. Kemudian masuk kekapal menuju luar Jawa
timur/pulau dengan Kapal langganan. Semua jalur tranportasi memang sudah di
setting sedemikian rupa supaya kertas sampai di tujuan dengan kondisi yang
tetap rapi. Tapi suatu saat, tenaga penjualan menjual kertas ke Kalimantan.
Hanya saja, pembeli tidak mau menggunakan jasa transportasi yang sudah
disetting perusahaan, dengan alas an terlalu mahal. Selain itu, pembeli juga
punya jasa tranportasi sendiri yang lebih murah. Dan ini disetujui saja oleh
tenaga penjualan tanpa dikomunikasikan lebih jauh efeknya. Dan benar sekali,
setelah barang dikirim dan sampai di Kalimantan, ternyata kertasnya dalam
kondisi rusak dan tidak bisa dipakai. Akhirnya pemebli complain ke perusahaan.
Sementara perusahaan kerta A tidak mau dikomplain dengan alas an, bahwa kerta
keluar dari Gudang pabrik dalam kondisi rapi dan tertata. Akhirnya masalah ini
bergulir cukup lama dan menjengkelkan.
Dari kasus ini bisa kita ambil satu pelajaran. Bahwa
semestinya, hal-hal yang bisa mengakibatka perubahan kondisi barang dan
rusaknya perjanjian tidak dibicarakan lebih awal. Jadi seharusnya pada waktu
tenaga penjualan deal dengan pembeli di Kalimantan dengan dengan jasa
transportasi sendiri, maka tenaga penjualan menjelaskan “jalur transportasi
yang disetting perusahaan kertas A adalah untuk kepentingan kondisi baarang.
Tapi kalau anda menggunakan transportasi lain, maka ada kemungkinan barang
rusak dan tidak bisa dipakai. Nah.. kalau rusak sampai di tempat, perusahaan
kertas A tidak mau bertanggung jawab”. Kalau saja pernyataan ini dibuat sebuah
perjanjian resmi, maka tidak akan muncul masalah complain seperti di atas. Itu satu
contoh saja. masih banyak contoh-contoh lainnya. Misalnnya, barang yang dikirim
telat waktu, adanya barang-barang yang tidak sesuai spesifik dll. Kalau hal-hal
semacam ini terjadi terus-menerus, maka akan mengikis kepercayaan dari
konsumen. Dan pada akhirnya akan sangat memebahayakan kondisi perusahaan. Karena
bisnis yang tidak dipercaya, tidak akan mendatangkan konsumen.
Karena itu, integritas menjadi budaya yang memang harus
dipegang teguh, baik oleh perusahaan ataupun karyawan dalam perusahaan
tersebut.
(Business Relation Action Coach Surabaya Agung Kurniawan Photo gettingsmart.com)
0 komentar:
Posting Komentar