Hari
Keenam.
Di
puasa hari yang keenam ini kita akan membahas tentang Integritas sebagai satu
diantara 14 budaya di action coach untuk mencapai sukses yang berkelimpahan.
Dan hari ini, kita membahas dari perspektif ibadah. Sedikit kita ingat sebentar
tentang makna integritas. Kalau kita mengacu pada tulisan kemarin, integritas
lebih mengarah pada tindakan yang membuat kita jujur dan dipercaya sehingga
menimbulkan kewibawaan.
Integritas
tidak saja dituntut dari perspektif bisnis, tapi juga dalam ajaran religius. Bahkan
integritas/ kejujuran ini tidak hanya sekedar disarankan, tapi wajib dilakukan.
Jujur, dalam ajaran islam merupakan suatu kewajiban. Kenapa orang diharuskan
untuk jujur?.. Ketika seorang hamba diwajibkan jujur, tentu ada manfaat yang
akan didapatkan.
1. Dengan
berperilaku jujur maka akan membawa keuntungan untuk diri sendiri dan juga
orang lain. Seperti yang difirmankan Allah dalam Surah Al Mu’minuun 8-11 yang
artinya.” Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang
memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya'ni)
yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.
Inilah yang dijanjikan oleh Allah
untuk orang yang punya integritas, baik di dalam bisnis maupun dalam beribadah.
2. Dengan
berperilaku penuh integritas/jujur, maka kita akan mendapatkan kepercayaan dari
lingkungan kita. Baik lingkungan bisnis maupun lingkungan social. Denga dipercaya,
maka bisnis kita akan berjalan lebih besar lagi. Karena, semakin kita
dipercaya, maka akan semakin banyak yang mendatangi kita.
Dengan berperilaku penuh integritas, maka akan
banyak keuntungan yang kita dapat baik dari sis duniawi maupun akhirat.
Nah… bagaimana dengan orang yang berperilaku tanpa
integritas. Akan ada akibatnya juga. Mari, kita lihat akibatnya. Orang yang
berperilaku tanpa integritas, bisa disebut juga orang yang berperilaku
berlawanan dengan integritas. Lawan dari integritas adalah pembohong. Akibat
dari perilaku berbohong/penipu adalah kehancuran. Baik kehancuran di dunia
maupun di akhirat. Seperti yang ada di An Nahl 94 yang artinya.
"Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai
alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah
kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi
(manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar."
Dari ayat di atas, kita bisa mengerti bahwa orang yang melakukan
penipuan akan tergelincir perjalanan hidupnya di dunia, dan juga merasaka
kemelaratan di dunia juga. Hal ini jelas sekali, karena jika kita melakukan
penipuan, maka orang tidak akan percaya lagi dengan kita. Dan akibatnya, orang
enggan lagi berhubungan dengan kita. Dalam konteks bisnis, maka orang enggan
melakukan transaksi bisnis dengan kita, karena sudah kita tipu.
Tidak cukup hanya dengan itu, orang yang melakukan
penipuan juga tidak akan mengalami keberuntungan. Seperti dalam surah An Nahl
116 yang artinya.
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa
yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini
haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya
orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung"
Ayat di atas menyebutkan kebohongan terhadap Allah.
Tapi ingat, kalau kita berbohong pada sesama manusia, sebenarnya sama saja
dengan kita berbohong pada Allah.
(Business Relation Action Coach Agung Kurniawan)
0 komentar:
Posting Komentar