Pusat Pelatihan Bisnis/Action Coach 22-07-2012
Karena menuliskan kekecewaanya di Facebook terhadap gurunya yang dianggap memberi tugas terlalu berat, 4 siswa SMAN 4 Tanjung Pinang, Kepulauan Riau,
dikeluarkan dari sekolah. (Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang
lalu) Tapi peristiwa yang senada dengan peristiwa ini masih terus
menerus terjadi sampai saat ini.
Facebook adalah sarana komunikasi bagi siapa saja. Tentu saja, pada awalnya facebook diciptakan untuk mempermudah komunikasi. Jadi pada dasarnya, bagi yang bisa dan memungkinkan untuk berkomunikasi langsung, tidak perlu memanfaatkan facebook. Tapi bagi mereka yang kesulitan berkomunikasi secara langsung, barulah mereka menggunakan Facebook.
Dengan demikian, bagi para siswa yang setiap hari bertemu secara fisik dengan sang guru, mestinya tidak perlu memanfaatkan Facebook. Jadi dalam kasus siswa SMAN 4 Tanjung Pinang, Kepulauan Riau itu mestinya tidak perlu terjadi. Karena siswa bisa langsung menyampaikan permasalahaya pada guru. Bukan menulis di Facebook. Kalau kemudian siswa tidak berani menyampaikan permasalahanya pada guru, berarti ada permasalahan komunikasi diantara siswa dan guru.
Nampaknya ada perbedaan pola komunikasi antara guru dan siswa pada saat ini dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini, pola hubungan guru dan murid hanya sebatas guru menyampaikan ilmu dan siswa menerima ilmu. Kondisi ini akan berpengaruh pada pola komunikasi yang terbangun. Padahal dulu, guru tidak saja menyampaikan ilmu tapi juga menjadi pamomong bagi murid.
Penulis masih ingat betul sekitar tahun 1980 an waktu masih di bangku sekolah dasar. Sebagai pengenjawantahan Guru sebagai pamomong, maka setiap hari Sabtu, guru selalu mengajak semua muridnya bercocok tanam di ladang sekolah. Sehingga guru tidak saja megajarkan ilmu tentang bercocok tanam, tapi juga momong murid dalam berperilaku secara langsung, baik antara murid dengan murid, murid dengan guru, murid dengan lingkungan pertanian dan para petani yang ada di sekitar lahan sekolah.
Di setiap hari Sabtu, murid dan Guru tidak hanya bercocok tanam, kadang kala juga pergi masuk ke hutan dan tegalan masyarakat. Sehingga dengan cara semacam ini muncul kedekatan antara murid dengan Guru seperti halnya kedekatan anak dan bapak atau Ibu. Dengan kondisi yang demikian, maka murid tidak akan sembarangan mengumpat atau mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat pada sang Guru.

Facebook adalah sarana komunikasi bagi siapa saja. Tentu saja, pada awalnya facebook diciptakan untuk mempermudah komunikasi. Jadi pada dasarnya, bagi yang bisa dan memungkinkan untuk berkomunikasi langsung, tidak perlu memanfaatkan facebook. Tapi bagi mereka yang kesulitan berkomunikasi secara langsung, barulah mereka menggunakan Facebook.
Dengan demikian, bagi para siswa yang setiap hari bertemu secara fisik dengan sang guru, mestinya tidak perlu memanfaatkan Facebook. Jadi dalam kasus siswa SMAN 4 Tanjung Pinang, Kepulauan Riau itu mestinya tidak perlu terjadi. Karena siswa bisa langsung menyampaikan permasalahaya pada guru. Bukan menulis di Facebook. Kalau kemudian siswa tidak berani menyampaikan permasalahanya pada guru, berarti ada permasalahan komunikasi diantara siswa dan guru.
Nampaknya ada perbedaan pola komunikasi antara guru dan siswa pada saat ini dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini, pola hubungan guru dan murid hanya sebatas guru menyampaikan ilmu dan siswa menerima ilmu. Kondisi ini akan berpengaruh pada pola komunikasi yang terbangun. Padahal dulu, guru tidak saja menyampaikan ilmu tapi juga menjadi pamomong bagi murid.
Penulis masih ingat betul sekitar tahun 1980 an waktu masih di bangku sekolah dasar. Sebagai pengenjawantahan Guru sebagai pamomong, maka setiap hari Sabtu, guru selalu mengajak semua muridnya bercocok tanam di ladang sekolah. Sehingga guru tidak saja megajarkan ilmu tentang bercocok tanam, tapi juga momong murid dalam berperilaku secara langsung, baik antara murid dengan murid, murid dengan guru, murid dengan lingkungan pertanian dan para petani yang ada di sekitar lahan sekolah.
Di setiap hari Sabtu, murid dan Guru tidak hanya bercocok tanam, kadang kala juga pergi masuk ke hutan dan tegalan masyarakat. Sehingga dengan cara semacam ini muncul kedekatan antara murid dengan Guru seperti halnya kedekatan anak dan bapak atau Ibu. Dengan kondisi yang demikian, maka murid tidak akan sembarangan mengumpat atau mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat pada sang Guru.
(Business Relation Action Coach Agung Kurniawan) Photo arifhidayat.com
0 komentar:
Posting Komentar